KETUA DPC PDIP JAKTIM KUKUHKAN PC BAITUL MUSLIMIN INDONESIA JAKARTA TIMUR DAN BSPN PDIP JAKTIM

Nurul KRedaksi - Minggu | 30 Agustus 2020 | WIB
KETUA DPC PDIP JAKTIM KUKUHKAN PC BAITUL MUSLIMIN INDONESIA JAKARTA TIMUR DAN BSPN PDIP JAKTIM
FOTO : PERNUSA / ISTIMEWA

KETUA DPC PDIP JAKTIM KUKUHKAN PC BAITUL MUSLIMIN INDONESIA JAKARTA TIMUR DAN BSPN PDIP JAKTIM

Pada Minggu, 30 Agustus 2020, jajaran DPP PDIP Jaktim menggelar peringatan Tahun Baru Islam dan pengukuhan Baitul Muslimin Indonesia Jaktim.

Sekaligus memperingati tahun baru Islam 1442 H, dilaksanakan Deklarasi Pengukuhan Pengurus Cabang Baitul Muslimin Indonesia Jakarta Timur dengan mengambil tema : "WUJUDKAN ISLAM SEBAGAI RAHMATAN LIL AL-AMIN".

"Skenario Tuhan menciptakan alam beserta isinya merupakan keteraturan universal, kemudian manusialah yang bertugas untuk memperlakukan mahluk ciptaan-Nya dengan arif dan bijak serta menyadari bahwa manusia merupakan bagian sangat kecil dari alam semesta".

Masyarakat Indonesia yang majemuk merupakan aset yang tak ternilai yang dimiliki bangsa Indonesia, kerukunan yang sudah ada sejak dulu merupakan keseimbangan dan kohesivitas sosial yang terus dijaga dan dirawat oleh para pendiri bangsa.Peradaban Islam masuk ke tanah nusantara dengan akulturasi nila-niai budaya dan nilai-nilai islam merupakan contoh besar penerapan kerukunan di tanah Nusantara.

Dalam perkembangannya, pemikir Islam dunia dan Indonesia merumuskan pendangan dalam tiga pendapat yaitu pandangan receptive (menerima sekularisme), kedua pandangan transformatif; yang berusaha mengambil nilai yang maslahat dan membuang yang mufsadah, yang ketiga adalah Konfrontatif. Kebanyakan tokoh-tokoh penyebar Islam di Nusantara mengambil corak transformatif seperti yang dilakukan oleh para Wali.

Kontestasi tiga pandangan diatas selalu mewarnai dinamika perpolitikan ditanah air dan meningkat tajam pada tahun-tahun politik seperti Pilkada, Pilpres dan Pileg. Pandangan receptive dan konfrontatif sering berbenturan dengan pandangan transformatif.

Hal inilah membuat kondisi perpolitikan di Indonesia terlihat memanas pada setiap momentum.

Sementara kita ketahui bersama bahwa Sejarah Islam di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari Revolusi Kemerdekaan Indonesia, Islam di Indonesia sudah dari sejak awal menjadi bagian kekuatan yang menolak dan menentang segala bentuk Penindasan, Imperialisme dan Kolonialisme.

Hal ini bisa dilihat dari peran kaum Agamawan sebut saja HOS Cokroaminoto, KH. Hasyim Asyari dan banyak Tokoh lainnya, dan muaranya pada momentum Resolusi Jihad Tanggal 22 Oktober 1945 yang menggelorakan semangat Hubbul Wathan Minal Iman. Resolusi Jihad berisikan perintah kepada umat Islam untuk berperang (jihad) melawan tentara Sekutu yang ingin menjajah kembali wilayah Republik Indonesia pasca-Proklamasi Kemerdekaan. Maka kemudian kita kenal dengan Peristiwa 10 Nopember 1945 dimana seluruh elemen rakyat di Jawa Timur Tumpah Ruah mengepung Surabaya yang menjadi symbol pendudukan Kolonialisme Belanda saat itu.

Pada Tahun 2015 dibawah kepemimpinan Presiden Ir. Joko Widodo Negara baru mengakui peran Resolusi Jihad dengan menetapkan tanggal 22 Oktober 1945 sebagai Hari Santri Nasional melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015.

Kondisi saat ini dimana maraknya intoleransi yang berlatar belakang agama tentu tidak menguntungkan bagi Indonesia, Kepedulian semua pihak menjadi kewajiban, untuk menekan maraknya intoleransi umat beragama yang saat ini meningkat, khususnya tokoh-tokoh agama, dengan memelihara dan mengembangkan ajaran agama dalam rangka meningkatkan kualitas beragama bagi para pemeluknya. Selanjutnya peran pemerintah untuk mengintervensi menyelesaikan akar masalah-masalah intoleransi di masyarakat sangat diharapkan.

Perkembangan dan modernisasi dalam segala bidang kehidupan menjadi tantangan bagi kita semua, perkembangan teknologi dapat mempengaruhi sifat dasar manusia dalam meluapkan emosi yang lebih rentan menimbulkan konflik dan saling bersitegang.

Modernisasi menciptakan cara baru yang dapat mengancam kerukunan, untuk itu perlu konsep dan penanganan dengan cara-cara yang juga baru.

Kami sangat memberikan apresiasi terhadap Pemprov DKI Jakarta yang telah mendirikan Masjid Hasyim Asyari, tentunya penetapan nama tersebut bukan tanpa alasan, dikarenakan KH Hasyim Asyari dalam perjuangannya menyebarkan nilai-nilai Islam dan ke Indonesiaan yang sesuai dengan Islam Rahmatan Lil Alamin. Hanya saja semangat pencantuman nama Masjid tersebut dalam aktifitas kegiatannya belum terlihat.

Untuk itu di kesempatan yang baik ini, kami Pengurus Cabang Baitul Muslimin Indonesia menyampaikan pernyataan sikap Sebagai Berikut :
1. Islam merupakan agama yang universal. Misinya tak lain "rahmatan lil alamiin," rahmat bagi sekalian alam, dengan tidak membedakan kelompok, suku, golongan atau bangsa.

2. Penyebaran Islam di Indonesia merupakan wajah Islam yang tumbuh di Nusantara. Islam Nusantara sebenarnya datang bukan untuk mengubah doktrin Islam yang dibawa oleh Nabi, tetapi ia hanya ingin mencari cara bagaimana melabuhkan Islam dengan konteks budaya masyarakat yang beragam sehingga dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.
Islam Nusantara Yang Berkemajuan untuk Indonesia Raya merupakan upaya memajukan ajaran Islam di Indonesia yang berbasis pada sebuah kesadaran budaya dalam berdakwah sebagaimana para walisongo melakukannya tanpa meninggalkan substansi dari ajaran Islam itu sendiri. Dan diwujudkan melalui komitmen Presiden RI ke 7, bapak Jokowi yang menetapkan Hari Santri Nasional sebagai Hari libur Nasional pada tanggal 22 Oktober.

3. Meminta dengan segera kepada Pemerintah khususnya Pemprov DKI Jakarta agar mengembalikan fungsi rumah ibadah dalam hal ini masjid bahwa masjid selain tempat beribadah, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw., juga memiliki fungsi sosial. Sehingga Masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah yang berdimensi vertikal, semata-mata hubungannya dengan Tuhan, tetapi juga sejatinya berdimensi horisontal yang tidak melakukan perbuatan yang justru dilarang oleh Islam.

Kegiatan ini juga di hadiri oleh Jajaran DPP PDI Perjuangan, Wiryanti Sukamdani, DPD PDI Perjuangan DKI, dan DPC PDI Perjuangan serta Ketua PD Bamusi Provnsi DKI Jakarta bapak H. Rasyidi HY dan Habib Salim bin Jindan sebagai Ketua Dewan Penasehat PC Bamusi Jakarta Timur.

Ketua DPP PDI Perjuangan, Dra Hj SB Wiryanti Sukamdani dalam sambutannya menegaskan, bahwa PDIP sudah dua kali menjadi pemenang dalam Pilpres dan Pemilu, Oleh karena itu BSPN dan BAMUSI sebagai tentara - tentara harus berjuang, dan harus dengan ikhlas.

Islam itu Damai, NKRI didirikan dengan Persatuan dan Kesatuan yang Bhinneka Tunggal Ika, didalamnya terdiri dari berbagai suku, ras, budaya, agama, untuk itu toleransi harus dijalankan dengan baik karena itulah Indonesia.

Sebagai bagian dari Anak Bangsa kita harus Saling menghargai dan saling menghormati, tingkatkan toleransi, Islam itu sangat toleran, tegas Hj Wiryanti Sukamdani.

Ketua DPC PDIP Jaktim, Dwi Rio Sambodo menegaskan bahwa Perkembangan Islam di Nusantara itu bukan berjalan begitu saja, tetapi banyak dinamika lika-liku dan sudah mengambil Jalan bahwa syiar dan dakwah Islam di Nusantara adalah melalui jalan transformatif bukan Jalan konfrontatif, Oleh sebab itu jikalau hari ini ada sedikit kelompok-kelompok yang mengatasnamakan Islam yang kemudian tidak pas dengan para pejuang-pejuang gerakan Islam sebelumnya, maka kita harapkan Baitul muslimin Indonesia bisa menegakkan Islam yang Rahmatan Lil alamin, pinta Dwi Rio Sambodo.

Ketua PC BAMUSI Jaktim, Muhammad Firdaus juga menegaskan bahwa masyarakat Indonesia sudah sejak lama terbiasa hidup dengan kerukunan, maka keberagaman adalah keniscayaan bagi Indonesia, dan Pancasila Mutlah untuk dijalankan, kita harus menghargai perbedaan. Untuk itu BAMUSI memiliki kewajiban untuk menekan maraknya intoleransi umat beragama.

Tokoh-tokoh agama harus mampu memelihara dan mengembangkan ajaran Agama dalam rangka memelihara kualitas keberagaman bagi pengikutnya. Dan adanya perkembangan teknologi saat ini menjadi tantangan kita semua, karena dapat mempengaruhi sifat dasar manusia, khususnya dalam meluapkan emosi yang lebih Rentan menimbulkan konflik yang dapat mengancam kerukunan umat beragama, untuk itu perlu konsep penanganan dengan cara yang juga baru, pinta M Firdaus.

Sementara Kepala BSPN Jaktim, Petrus Paulus Primayanto juga mengungkapkan kesiapannya dalam memenangkan Pemilu maupun Pilpres, anggota BSPN adalah pemuda-pemuda yang ahli IT, tegasnya. (Nrl/Pry)