Promovenda Siti Rahmi, Guru SD Yang Raih Gelar Doktor PAI UIJ Dengan Cumlaude

Nurul KRedaksi - Rabu | 11 September 2019 | WIB
Promovenda Siti Rahmi, Guru SD Yang Raih Gelar Doktor PAI UIJ Dengan Cumlaude
FOTO : PERNUSA / ISTIMEWA

Promovenda Siti Rahmi, Guru SD Yang Raih Gelar Doktor PAI UIJ Dengan Cumlaude

Siti Rahmi, Sosok Wanita Betawi kelahiran Jakarta, 18 Januari 1982, yang selalu tampil sederhana dan mengabdikan dirinya sebagai Guru Agama Islam DPK pada SDIF Assalafy Kebon Nanas Selatan, Cipinang, Jakarta Timur, Promovenda Siti Rahmi dinyatakan lulus sebagai Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Jakarta, seusai ujian promosi Sidang Senat Terbuka UIJ, dimana Promovenda menyampaikan disertasi dengan judul "Inovasi Model Kemp Dalam Pembinaan Mental dan Spiritual Bagi Narapidana Di Lembaga Pemasyarakatan".

Usai meraih gelar Doktor Pendidikan Agama Islam dari Universitas Islam Jakarta, Dr Siti Rahmi mengaku bersyukur bisa menyelesaikan tugas akademik serta meraih nilai terpuji/Cumlaude, diakuinya untuk meraih gelar doktor ini membutuhkan ketekunan, kerja keras dan perjuangan panjang, namun bersyukur Suami, Orang Tua dan kedua anaknya selalu memberikan dukungan penuh, hingga hari ini bisa mempertahankan desertasi tersebut.

Karya Ilmiah dan penelitian yang dilakukan dari dalam Lapas Kelas 2 Cipinang tersebut, diakuinya karena orang tua bekerja sebagai Sipir di Lembaga Pemasyarakatan, dan Desertasi ini ditulis karena ingin berbeda dengan yang lain, keluar masuk Lapas adalah hal yang biasa dilakukan dari kecil, untuk itu kontribusi untuk merubah Napi agar tidak kembali lagi ke Lapas atau tidak melakukan tindakan yang melanggar hukum, disinilah perlu adanya pendidikan Agama Islam, dalam merubah mental dan spiritual warga binaan lapas.

Desertasi hasil penelitian dengan tema, Inovasi Model Kemp Dalam Pembinaan Mental dan Spiritual Bagi Narapidana Di Lembaga Pemasyarakatan ini, Dr Siti Rahmi juga berharap akan bisa membantu pemerintah, khususnya pada Dirjen Lapas Kemenkumham, untuk bisa menjadi acuan bagi Lembaga Pemasyarakatan Kelas 2 Cipinang, maupun Lapas lain, untuk merubah perilaku serta akhak warga binaan, sehingga tidak kembali lagi ke lapas, ungkapnya.

Promotor, Prof. Dr. Dedy Djubaedi, MA usai menguji Dr Siti Rahmi menegaskan, bahwa pihaknya bersyukur promovenda telah melakukan penelitian di Lapas dalam upaya memberbaiki akhlak dan moral warga binaan, apalagi saat ini bangsa Indonesia sedang kesulitan untuk mendidik bangsa menjadi bangsa yang baik, yang bermoral, yang terhindar dari perbuatan perbuatan kejahatan. Ini artinya harus ada usaha-usaha, jadi ketika promovenda yang saya bimbing ini, punya niatan untuk menyuguhkan sebuah tema tentang narapidana di lembaga pemasyarakatan, bagi saya ini harus saya apresiasi, karena niatan baik yang ternyata didorong juga secara pribadi, bahwa ayahandanya itu juga pernah bekerja di lembaga pemasyarakatan, jadi disertasi ini menarik untuk inspirasi bagi publik.

Yang kedua adalah sebagai temuan yang nanti bisa dimanfaatkan oleh berbagai pihak, untuk melakukan pembinaan-pembinaan dengan model yang ditemukan, yaitu "model Kemp", kami memberikan penilaian yang baik dengan harapan masyarakat bisa memanfaatkannya di kemudian hari, tegas Prof Dedy Djubaedi.

Hal senada juga diungkapkan Rektor UIJ, yang juga Ketua panitia penguji doktor, Prof Raihan, dimana Dr Siti Rahma merupakan doktor Pendidikan Agama Islam UIJ ke 4, dan dalam presentasi hari ini, juga punya nilai inovasi bagi dunia pendidikan, terutama untuk pendidikan nonformal di Lembaga Pemasyarakatan, Bagaimana membina Lembaga Pemasyarakatan dengan pola pendidikan Agama Islam.

Oleh karena itu kita harapkan dengan ada temuan ini, Promovenda akan memberikan langkah-langkah dengan tulisan-tulisannya, kemudian diberikan kepada pihak-pihak terkait agar bisa diperhatikan, sehingga lapas bisa lebih maksimal, kita lihat tadi bahwa dari keinginan-keinginan penghuni Lapas sudah dimintai beberapa informasi dan lain sebagainya, tentang pembinaan yang selama ini, sehingga dengan temuan-temuan itu, maka tentunya sebagai insan akademis, tentunya dengan teori-teori pendidikan, kita bisa melihat, merefleksikan, modifikasi atau menambah, atau mengubah, atau memperbaiki teori yang ada. Dan banyak hal-hal yang harus kita perbaiki dalam bidang pendidikan, baik formal maupun nonformal, ungkap Prof Raihan. (Nrl).