ITL Trisakti Gelar FGD Green Transport Sustainable 2019

Nurul KRedaksi - Selasa | 27 Agustus 2019 | WIB
ITL Trisakti Gelar FGD Green Transport Sustainable 2019
FOTO : PERNUSA / ISTIMEWA

ITL Trisakti Gelar FGD Green Transport Sustainable 2019, Upaya Penanggulangan Polusi Udara di DKI Jakarta

Bertempat Auditorium Kampus Institut Transportasi dan Logistik Trisakti (ITL Trisakti) Jakarta pada Selasa 27 Agustus 2019, FSTL Prodi S1 Transportasi menggelar FGD Green Transport Sustainable 2019, dengan tema "Upaya Penanggulangan Polusi Udara di DKI Jakarta", acara tersebut dibuka secara resmi oleh Ketua Yayasan Trisakti, Dr Bimo Prakoso.

Dalam sambutannya Dr Bimo Prakoso mengapresiasi Civitas Akademika ITL Trisakti dalam upaya,mengatasi permasalahan Ibukota Jakarta, melalui kajian akademik serta penelitian.

Dengan dihadirkannya para narasumber yang ahli dibidangnya, serta memahami permasalahan Jakarta, diharapkan para mahasiswa mempu menyerap serta menjadi bahan pembelajaran dan kajian untuk nantinya dijadikan kajian bersama guna membantu pemerintah, khususnya dalam penataan transportasi ramah lingkungan serta mengurangi pencemaran udara Jakarta, pintanya.

Sementara dalam paparannya, Direktur Pengendalian Pencemaran Udara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Dasrul Chaniago dalam paparan bertemakan "Kebijakan Pengendalian Pencemaran Udara", mengungkapkan adanya sumber emisi bergerak seperti kendaraan bermotor, pesawat juga Kapal dan tidak bergerak seperti yang dihasilkan industri yang diatur PPU berdasarkan PP 41/1999, untuk mengatur aturan-aturan mengenai kondisi kualitas udara maupun penetapan status mutu udara, dalam upaya penanggulangan pemulihan udara dan pencegahannya.

Upaya pengendalian pencemaran udara melalui upaya menurunkan emisi kendaraan, seperti mendorong perbaikan kualitas bahan baku mutu emisi, kualitas bahan bakar serta menekan jumlah kerdaraan yang bergerak agar beralih ke angkutan massal.

Beberapa aturan lain dalam pengendalian pencemaran udara seperti PP no 41 tahun 1999, tentang Pengendalian Pencemaran Udara , Undang-Undang no. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, dan PP no. 27 tahun 2012 tentang Izin Lingkungan. Dan Pemerintah terus mendorong industri otomotif dan bahan bakar dalam menekan pencemaran udara.

Upaya lain melakukan Jaring pemantauan kualitas udara serta penyediaan informasi kualitas udara untuk pengambilan kebijakan dalam pengambilan putusan dalam kebutuhan transportasi, pemukiman, perkantoran dan industri, papar Dasrul Chaniago.


Prof. (Riset). Dr. Ir. Budi Haryanto, M.Sc. (Universitas Indonesia) dalam paparannya membahas mengenai dampak kesehatan akibat pencemaran udara, dimana 60% efek pencemaran adalah kesehatan, terbesar adalah penyakit yang timbul melalui pernafasan, seperti Batuk, Pilek, Asma, infeksi saluran pernafasan/Paru, bronkitis dan yang lain, sehingga berdampak pada menurunnya produktivitas kerja, hingga meninggal karena pencemaran.

Di Jakarta disepakati pencemaran 70% disebabkan oleh kendaraan, pengobatan penyakit akibat pencemaran udara juga sangat besar biayanya, dan jumlah penderita mencapai 60% dari seluruh penyakit yang ada, untuk itu upaya pengurangan jumlah penderita penyakit adalah mengurangi pencemaran udara, dengan cara pengendalian jumlah kendaraan bermotor, perbaikan kualitas bahan bakar dan atau energi bersih, teknologi kendaraan bermotor dan manajemen transportasi terintegrasi monitoring kualitas udara, harapnya.

Pembicara ketiga, Dr Syafrin Liputo (Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) DKI Jakarta), dengan tema Menuju Transportasi Ramah Lingkungan di DKI Jakarta, dimana pertumbukan kendaraan bermotor cukup tinggi, mencapai sekitar 8 juta, untuk itu upaya pertama adalah menekan pencemaran melalui kebijakan kebijakan seperti pembatasan usia kendaraan angkutan umum, pemberlakuan ganjil-genap hingga rencana membatasi usia kendaraan pribadi serta kajian menaikkan biaya parkir.

Berbagai regulasi melalui Perda dan Pergub terus dibuat dalam penataan angkutan umum yang melintas di Jakarta, uji emisi kendaraan bermotor, mendorong pemakaian kendaraan listrik dan angkutan lingkungan berbahan bakar gas, dimana saat ini Busway maupun Taxi sudah mulai menggunakan kendaraan listrik, disamping itu Pemda juga memfasilitasi angkutan dengan Sepeda.

Otoped, Motor Listrik maupun Sepeda gowes akan dimaksimalkan pengoperasiannya terintegrasi dengan transit angkutan umum, bahkan biaya sewa akan disubsidi Pemda DKI, tegas Kadishub DKI.

Disela Seminar tersebut, Rektor ITL Trisakti, Dr Tjuk Sukardiman juga menjelaskah, bahwa ITL Trisakti terus berupaya membangun kerjasama baik dengan pemerintah maupun dunia usaha dalam mengkaji masalah polusi emisi gas buang dan dampaknya, bagaimana semua pihak bisa melukan perbaikan transportasi.

Hari ini kita gelar FGD merupakan pendahuluan yang nantinya akan kita lanjutkan dengan diskusi-diskusi termasuk dampak rumah kaca di Jakarta.

ITL Trisakti bekerjasama dengan Kementerian Perhubungan dan UNDP akan menggelar International Conference, bahkan kita juga akan melakukan kegiatan untuk mengukur seberapa besar yang sudah terjadi, efek polusi udara yang diakibatkan kendaraan maupun efek rumah kaca di Jakarta ini.

Jadi ITL Trisakti ini memiliki icon dalam studinya yaitu the integrated and sustainable transportation and logistics System, artinya penyelenggaraan transportasi dan untuk kepentingan logistik yang tidak mencemari udara, Green and Smart Transport, dan salahsatu ide yang pernah kita usulkan yaitu dengan claster warna mobil, ini sedang kita teliti apakah bisa efektik daripada kebijakan ganjil genap, paparnya.

ITL Trisakti juga mendorong pemerintah kedepan untuk memanfaatkan, memotifasi dan menstimulir digunakannya kendaraan yang digerakkan dengan elektronik yang bersih lingkungan, bagaimana kedepan kebijakan transportasi yang betul, betul sesuai harapan maupun tuntutan masyarakat, papar Dr Tjuk Sukardiman. (Nrl).