UNINDRA Gelar International Conference on Folklore, Langue, Education and Exhibition 2019

Nurul KRedaksi - Sabtu | 03 Agustus 2019 | WIB
UNINDRA Gelar International Conference on Folklore, Langue, Education and Exhibition 2019
FOTO : PERNUSA / ISTIMEWA

UNINDRA Gelar International Conference on Folklore, Langue, Education and Exhibition 2019

Bertempat di hotel Bidakara Jakarta pada Rabu, 1 Agustus 2019, Universitas Indraprasta PGRI (UNINDRA) menggelar International Conference on Folklore, Langue, Education and Exhibition (ICOFLEX) 2019.

Rektor Unindra, Prof. H Sumaryoto disela ICOFLEX 2019 tersebut pada wartawan menjelaskan, bahwa International Conference on Folklore, Langue, Education and Exhibition ini merupakan Konferensi Budaya/Cerita Rakyat, Bahasa dan Pendidikan yang baru pertama kali diselenggarakan UNINDRA, dan pihaknya bersyukur partisipasi peserta dari dalam maupun luar negeri sangat bagus, dimana 5 negara hadir dalam ICOFLEX 2019 ini, demikian juga Universitas lain di Indonesia hadir dari 18 Provinsi, dan seluruh peserta yang hadir berjumlah 233 peserta.

Konferensi internasional ini juga dalam rangka melaksanakan salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi, juga supaya Unindra secara bertahap bisa berkembang, semakin bisa mensejajarkan diri dengan Universitas luar negeri, kita juga ingin menunjukkan eksistensi Unindra dimata internasional, di era global sekarang ini, kita juga mulai menyiapkan diri dengan perkembangan pendidikan tinggi di era industri 4.0, yaitu dengan metode pembelajaran jarak jauh e-learning dan teleconference, paparnya.

Dalam kegiatan internasional, Unindra juga sudah sering menghadiri undangan dari beberapa Universitas luar negeri, baik dalam menghadiri Seminar internasional, menjadi Pembicara maupun mengedukasi seni tradisi Indonesia ke luar negeri, sehingga kita bisa memaksimalkan potensi untuk lebih berkembang lagi kedepan, tegas Prof Sumaryoto.

Konferensi Internasional ini akan membahas beberapa topik hasil kajian akademik dengan tema "Expanding the possibilities of humanities and social studies, Bridging the past, present and the future", yaitu memperluas kemungkinan belajar Cerita Rakyat dan Sosial menjembatani masa lalu, masa depan dan masa kini, karena Cerita Rakyat merupakan bentuk kajian Sastra dan pendidikan.

Cerita Rakyat berkembang bukan saja di Indonesia, namun juga di negara-negara lain, disinilah kita akan lakukan kajian-kajian akademik, untuk nantinya kita lestarikan dan kembangkan bersama, ungkapnya. (Nrl)