Prof H Sumaryoto : Hardiknas Harus Mampu Membangun Semangat Juang Ki Hadjar Dewantara

PriyonoRedaksi - Kamis | 02 Mei 2019 | WIB
Prof H Sumaryoto : Hardiknas Harus Mampu Membangun Semangat Juang Ki Hadjar Dewantara
FOTO : PERNUSA / ISTIMEWA

Prof H Sumaryoto : Hardiknas Harus Mampu Membangun Semangat Juang Ki Hadjar Dewantara

2 Mei merupakan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), dimana seluruh masyarakat memperingati hari lahirnya Bapak Pendidikan Ki Hadjar Dewantara, untuk itu di era pembangunan saat ini, seluruh masyarakat harus bisa meneladani ajaran Ki Hadjar Dewantara, yang dikenal dengan Filosofi Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.

Menurut Rektor Universitas Indraprasta PGRI (UNINDRA), Prof H Sumaryoto, bahwa dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional saat ini, kita tidak bisa lepas dari Sejarah Ki Hadjar Dewantara, yang telah membuat tuntutan khususnya bagi setiap pendidik, dimana apabila kita berada didepan harus bisa menjadi contoh/tauladan, atau Ing Ngarso Sung Tulodo, sementara apabila kita ditengan maka harus bisa jadi membangun Karsa/Keinginan atau Kehendak atau membangkitkan semangat, dan Tut Wuri Handayani artinya dibelakang harus bisa memberikan dorongan.

Hal tersebut juga menggambarkan bahwa dalam pendidikan, kita juga harus melihat pertumbuhan anak didik sesuai umur dan perilaku anak, dimana untuk anak-anak TK atau Sekolah Dasar, maka Guru harus bisa menjadi contoh, dan untuk Siswa SMP atau SMA/K Guru harus mampu membangun Karso atau membangun bagaimana mereka punya keinginan, dengan kegiatan-kegiatan yang positif, karena Anak SMA ini sudah tumbuh dewasa, sementara untuk Mahasiswa maka Dosen tidak saja memberikan contoh, tetapi harus mampu memberikan dorongan, motivasi, agar mahasiswa bisa mandiri dan mampu meningkatkan daya kreativitas, jadi dalam memperingati Hardiknas saat ini dalam penataan pendidikan harus mengacu pada ajaran Ki Hadjar Dewantara tersebut, ini suatu ajaran dan nilai-nilai yang tidak pernah pudar atau using ditelan jaman, tegasnya.

Saat disinggung dengan perkembangan teknologi saat ini, Prof Sumaryoto menegaskan, bahwa Teknologi sejatinya adalah suatu alat dalam mendukung pendidikan, baik dalam mendukung program pendidikan maupun sarana mengembangkan kreativitas, hal tersebut memang penting untuk dikuasari seorang Guru/Dosen, namun demikian kita jangan sampai ditelan oleh teknologi itu sendiri, kita tidak boleh tunduk oleh tenologi, misalkan saat mengajar tidak harus selalu dengan komputer atau powerpoint,misalkan mengajar ilmu Sosial, kan berbeda dengan mengajar Matematika tau Fisika, dan semua kembali kepada guru atau dosen itu sendiri, jadi intinya teknologi adalah alat atau media yang diperlukan untuk proses pembelajaran, namun bukan segala-galanya, karena dalam proses belajar mengajar, Guru atau Dosen harus tetap sebagai "Subyek" atau "Tokoh", yang menggendalikan proses belajar mengajar, ungkapnya.

Kemajuan teknologi yang berbasis Big Data yang banyak memanfaatkan smartphone, diakuinya memang bisa membantu anak didik maupun guru, dengan mencari data sumber pembelajaran maupun sumber informasi, namun demikian Guru tetap berada disekolah, namun untuk di luar sekolah apalagi di rumah, penggunaan teknologi tersebut adalah tanggungjawab orang tua atau masyarakat, disinilah peran orang tua juga dituntut untuk turut mengawasai pemanfaattan teknologi tersebut untuk menekan unsur negatif dalam penggunaan smartphone, karena seorang guru tidak serta merta bisa mengawasi muridnya, inilah yang mempengaruhi perilaku atau karekter anak didik.

Untuk itu pada Momen Hardiknas ini, Pemerintah harus lebih memperhatikan nasib guru, dengan meningkatkan kesejahteraan dan kompetensi guru, perlunya pengangkatan guru dan tidak lagi ada guru honorer, karena sebagai pendidik mereka memiliki Hak penghasilan yang layak maupun penghargaan dan sertifikasi sebagaimana guru yang lain, sistem kontrak sangat merugikan guru, untuk itu alangkah baiknya jika secepatnya dilakukan pengangkatan, karena pekerjaan ada, Job ada, dan kompetensinya juga telah sesuai, kenapa mesti dipersulit, saat ini masih ada guru dengan honor 300 ribu hingga 500 ribu per-bulan, ini sangat tidak menghargai pendidik, Guru harus dimanusiakan dan diperlakukan secara adil. inilah yang harus diperbaiki Pemerintah, pintanya. (Nrl).