Lomba Bakat Top Model 2018 Dinilai Kurang Profesional

PriyonoRedaksi - Senin | 17 Desember 2018 | WIB
Lomba Bakat Top Model 2018 Dinilai Kurang Profesional
FOTO : PERNUSA / ISTIMEWA

Lomba Bakat Top Model 2018 Dinilai Kurang Profesional

Ajang pencarian bakat Indonesia Top Model 2018 yang dilaksanakan pada tanggal 6,7 hingga 8 Desember 2018 di epiwalk Rasuna Jakarta mendapat sorotan serius dari Peserta asal Makassar, Ahmad Yani orang tua peserta pada wartawan mengungkapkan kekesalannya, karena banyak janji-janji yang tertulis dalam brosur tetapi saat acara ternyata tidak ada seperti Kaos, Serempang dan Tropy yang dijanjikan, namun ternyata janji tinggal janji, hal tersebut sudah melanggar UU Perlindungan Konsumen.

Ahmad Yani juga mengungkapkan kekecewaannya, karena selama 3 hari mengikuti ajang pencarian bakat, namun peserta tidak memperoleh pembekalan bidang Modelling, dan tanpa ada roandom yang jelas, di hari pertama peserta hanya mendapatkan penyuluhan bahaya Narkoba, hari kedua tidak ada kegiatan, hanya mengikuti gladi saja, dan hari ketiga langsung lomba, jadi dengan uang pembayaran peserta senilai Rp.3.500.000,- (tiga juta lima ratus ribu rupiah) tidak memperoleh apa-apa, kaos dan serempang pun tidak diberikan, belum lagi uang yang harus kita keluarkan untuk menginap di hotel beberapa hari, namun kami harus pulang dengan kecewa, paparnya.

Acara dengan tema Mom and Kids Award 2018, seharusnya yang tampil di atas Catwolk adalah Ibu dan Anak, kekompakan ibu dan anak itulah yang harus dijunjung tinggi dan menjadi acuan juri, tetapi ada peserta yang tampil bukan dengan orang tua, seperti dengan neneknya atau tantenya, padahal ibunya ada, namun diwakili orang lain dan bisa memperoleh juara, dan saat kita protes ke dewan juri, alasanya hal tersebut tidak masalah, ini jelas tidak sesuai tema, protes kita akhirnya tidak ditanggapi dewan juri maupun penyelenggara dari YAPMI.

Yang lebih menyedihkan, peserta yang saat jalan di Catwolk sepatunya terlepas bisa masuk 10 besar dan dapat juara, sementara yang bagus masih banyak, ada peserta yang mendapat juara 2, setelah naik disuruh turun lagi dengan alasan tidak ada juara 2, bilangnya pemenangnya hanya 1, dan juara 2 tersebut juga tidak masuk dalam 10 besar, dan saat kita tanyakan tidak ditanggapi juri, jadi kami nilai iven ini tidak jelas, dan kriterianya juga tidak ada, ungkapnya penuh kekesalan. (Rl)