Keluarga Besar Sriwijaya Tidak Sudi Dipimpin Presiden dan Wapres Pemain Sandiwara

PriyonoRedaksi - Jumat | 14 Desember 2018 | WIB
Keluarga Besar Sriwijaya Tidak Sudi Dipimpin Presiden dan Wapres Pemain Sandiwara
FOTO : PERNUSA / ISTIMEWA

Sadek Sriwijaya : Kami Rakyat Indonesia, Khusus Keluarga Besar Sriwijaya Tidak Sudi Dipimpin Presiden dan Wapres Yang Pemain Sandiwara dan Bertangan Besi

Suhu politik di tanah air terus meningkat, dukungan dan penolakan mewarnai pemberitaan saat kampanye Capres maupun Cawapres, namun tidak sedikit yang menanggapi penolakan kehadiran kandidat hanyalah setingan atau sekedar sandiwara belaka, hal tersebut juga diungkapkan Ketua Umum Laskar Sriwijaya yang juga Ketua Dewan Pembina DPP GM Sriwijaya, Bung Sadek Sriwijaya, berikut petikan wawancaranya

Apa alasan Bung Sadek tidak mau dipimpin Presiden yang pemain sandiwara dan bertangan besi ?

Sadek : alasannya, bukankah kita sama-sama mengetahui Kita pernah dipimpin oleh Bung Karno selama 25 tahun, kita iklas karena memang beliau jasa-jasanya tidak bisa ditukar dengan apapun, beliau Perintis Kemerdekaan, pada masa-masa perjuangan Masa lalu itu, tidak bisa kita bayar pakai apapun, jasa-jasa para pahlawan yang dipimpin Bung Karno. dan di sebelumnya dipimpin oleh Kyai Haji Agus Salim dan Kyai Ahmad Dahlan yang melahirkan Sumpah Pemuda dan lain-lain.

Kemudian di era berikutnya kita dipimpin oleh seorang Kyai (KH Abdurrahman Wahid), Ya sudahlah itu tidak perlu kita bahas, kemudian kita dipimpin oleh Ibu Megawati, itu juga tidak perlu kita bahas, karena jangkanya sangat pendek. dan kemudian kita dipimpin oleh Pak SBY selama 10 tahun, selama 10 tahun itu pembangunan-pembangunan tidak ada yang istimewa sifatnya, Pada masa itu tol sudah dimulai di Palembang, tapi di hentikan sampai akhir jabatannya dan dimasa bapak Jokowi kita sama-sama juga tahu siapa Joko Widodo dan sepak terjangnya.

Alasannya adalah dimasa lalu kita pernah mengalami selama 32 tahun, bagaimana pada saat itu ?, saya tidak perlu ceritakan, terutama kepada anak-anak muda yang lahir di masa-masa transisi, pada waktu itu di lahir di sekitar tahun 92, 93, 94 sampai 99, itu tidak banyak tahu apa sebenarnya yang namanya tangan besi, jadi sulit dibayangkan kalau itu terulang, mau bicara politik saja sulit, apalagi mau bertindak atau pun mau mengusulkan sesuatu melalui aksi demo dan lain-lain.

Kemudian pemain sandiwara, kita sama-sama mengetahui, juga bukan fitnah ini, Ratna Sarumpaet bermain sandiwara, sandiaga Uno juga bermain sandiwara, masak ada spanduk penolakan tepat didepanya saat masuk pasar..., tidak mungkin itu !
Sebelum ia masuk pasti kan sudah dibersihkan oleh timnya, kami menolak hal itu, karena yang masang siapa ?, yang baca siapa ?, Kalau ini jadi pemimpin negeri ini, sudah bisa dibayangkan, pasti akan terulang penderitaan, terbungkam nya demokrasi di mana-mana, jangankan namanya mau ngomong di koran, bisik-bisik juga bisa ditangkap, itulah pada zaman kepahitan itu, zaman yang gelap gulita pada waktu itu.

Nah, sekarang kita sudah berada pada zaman reformasi, Demokrasi sudah berjalan mulus, bagaimana kita ?, mau diteruskan demokrasi ini atau kita mau berpindah pada jalur lain. jadi hal seperti inilah yang kita takutkan ke depan, karena pemimpin-pemimpin yang bertangan besi dan pintar bersandiwara, rakyat yang akan celaka.

Kenapa masih ingin Presiden Jokowi ?

Sadek : Dari mulai kemerdekaan sampai pada zaman Orde baru, baru presiden inilah yang tidak premedheolisme ataupun anti kesukuan, pada Presiden inilah banyak jenderal-jenderal, putra-putra daerah bermunculan dan dipakai oleh negara, karena presiden ini tidak sekali-kali ada KKN dalam masalah tingkat tinggi, jadi siapa yang mampu dan bagus, itu dipakai, dimanapun dia lahir, dari manapun, itu pokoknya yang betul-betul mempunyai loyalitas dan dedikasi serta mampu dan terbaik, pasti dipakai sama presiden ini. Yang kedua tidak pernah bisa membayangkan pada presiden yang lalu-lalu yang puluhan tahun memerintah, tidak bisa membangun jalan raya, jalan tol, jalan Trans Papua, Trans Sulawesi dan Kalimantan, Trans Sumatera. jadi dari Palembang menuju Jakarta, akan ada jalan tol sampai bakahuni yang hanya punya jarak tempuh sekitar 3 jam, Nah... itu kan membahagiakan rakyat dan akan mampu membuat ekosistem pengembangan ekonomi, apabila diiringi dengan percetakan sawah, kemudian kelistrikan dan lain-lain, jadi yang paling penting itu ya jalan raya, kelistrikan dan air. pasti secara otomatis akan memakmurkan masyarakat sekitar, yang dinamakan community development.

Kemudian adanya listrik desa yang sedang dibangun 35.000 MW, yang artinya mampu melistrikkan seluruh desa-desa di Indonesia, kemudian ada lagi yang namanya Tunjangan Pendidikan, Kartu Indonesia Pintar, ada BPJS, Ada lagi macam-macam kebijakan untuk untuk kesejahteraan rakyat, peningkatan SDM dan lain-lain, pokoknya seluruhnya sudah dibangun oleh Pak Jokowi. Itu semua bukan bohong, dan dia tidak korupsi. Bahkan saat anaknya nikah pun dia tidak mau terima kado.dan kami tahu persis di dalam hati yang paling dalam, Pak Jokowi itu betul-betul mencintai rakyat, betul-betul hidupnya untuk kepentingan bangsa dan negara, itulah alasannya, kita menginginkan kembali Pak Jokowi, melanjutkan kepemimpinannya untuk melunasi janji-janjinya, yaitu kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Apa harapan kedepan pada kepemimpinan Bapak Jokowi ?

Sadek : harapan kedepan, karena musuh-musuh ini sangat nekat, dan sangat berbahaya, supaya Pak Jokowi lebih berhati-hati, baik saat melakukan perjalanan maupun kunjungan, kemudian adalah perwujutan Jalan-jalan raya, Jalan tol di seluruh Kalimantan, Sulawesi, Papua, Sumatera, itu tolong diutamakan, karena dari situlah akan terbangun secara otomatis ekosistem Apabila ada listriknya, Apabila ada airnya, pasti kehidupan akan berjalan dengan sendirinya secara otomatis, tanpa disuruhpun rakyat membangun sendiri, kemudian ada cerita yang sulit dimengerti oleh akal sehat, bahwa membangun infrastruktur itu katanya tidak perlu utang, itu ndak bisa kayak begitu berpikirnya, dari mana jalannya, ya kalau untuk membangun toilet di desa di Kecamatan, ya nggak perlu utang, tetapi untuk trans Papua, Sumatera dan yang lain, itu mau pakai apa, kalau ndak pakai utang luar negeri, tapi kan sudah diatur systemnya, sudah dihitung segala plus-minusnya, sudah di dibuatkan agreement dengan pihak pemegang keuangan, Sehingga nantinya akan lahir suatu pembangunan yang sudah jelas-jelas dipikirkan matang, sematang-matanya oleh pemerintah, jadi kalau mau cerita membangun infrastruktur yang ribuan kilometer dangan nilai raturan trilyun, kalau tanpa utang, itu omong kosong atau pepesan kosong, itu yang namanya sandiwara.